Berbicara dakwah maka tidak dapat terlepas dari dai yang menyampaikan dakwah tersebut. Dalam berdakwah, dai bijak haruslah mempelajari serta mengetahui keadaan masyarakat dari segala sisi. Keyakinan, ekonomi, finansial, pendidikan serta strata yang berlaku dalam masyarakat.
Sehingga ketika dalam berdakwah ia pun dapat menempatkan mereka sesuai dengan kondisi sosial mereka. Selain itu dai dapat menyeru mereka sesuai dengan kemampuan akal mereka serta menempatkan fasilitas sarana dan prasarana yang tepat sehingga dapat menunjang keberhasilan dakwahnya. Oleh karenanya Ali bin Abi Tholib berkata:
حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ, أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذِّبَ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ
"Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Apakah kalian ingin Allah dan rasul-Nya didustakan?"
Ali bin Abi Tholib memperingatkan para dai agar menyeru manusia sesuai dengan kadar pengetahuan mereka. Sebab apabila akal mereka tidak dapat memahami apa yang disampaikan, maka akan menjadi bumerang bagi dai tersebut. Yakni mereka akan menolak dakwah tersebut. Bukan karena ingin mendustakan Allah dan rasul-Nya, namun karena akal mereka tidak dapat mencernanya.
Pada kesempatan yang lain Abdullah bin Mas'ud juga menasehatkan hal yang senada. Dia berkata:
مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيْثًا لاَ تَبْلُغُهُ عُقُوْلهًَُمُ ْإِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةٌ
"Tidaklah kalian berbicara kepada suatu kaum yang mana akal mereka tidak dapat mencernanya kecuali pasti terjadi fitnah di antara mereka."
Pun, rasulullah n ketika mengutus Mu'adz ke Yaman sebagai dai, qodhi, dan mu'allim di sana beliau bersabda:
إِنَّكَ تَأْتِيْ قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ
"Sesungguhnya engkau akan mendatangi ahlu kitab"
Rasulullah n menjelaskan kepada Mu'adz tentang keadaan orang-orang Yaman. Beliau menjelaskan bahwa mayoritas penduduknya adalah ahlu kitab. Tentu saja hal itu perlu diketahu oleh Mu'adz. Sehingga mu'adz dapat menentukan metode yang tepat dalam mendakwahi mereka. Sebab berdakwah kepada ahlu kitab berbeda dengan cara berdakwah kepada orang musyrik pada umumnya. Berbeda pula cara berdakwah kepada Atheis, Nasrani, penyembah berhala, penyembah dewa, penganut animisme dan dinamisme, serta penganut agama lainnya.
Mempelajari lingkungan tempat berdakwah merupakan perkara yang sangat penting. Seorang dai membutuhkan pengetahuan tentang keadaan mad'u (objek dakwah). Pengetahuan tersebut meliputi keyakinan, kejiwaan (psikologi), sosial, ekonomi, finansiat, sumber-sumber kesesatan, serta penyimpangan yang terjadi di dalam masyarakat dengan pengetahuan yang baik. Selain itu, bahasa, logat, kebiasaan, serta subhat yang menyebar di masyarakat serta madzhab-madzhab merekapun perlu diketahui.
Seorang dai tidak akan berhasil dalam dakwahnya apabila tidak tepat dalam melakukan tindakan dan perkataan. Laiknya seorang dokter yang memeriksa penyakit pasiennya. Dia harus tahu penyakit pasien dan tepat dalam mendiagnosanya kemudian memberikan obat yang sesuai dengan penyakit yang diderita. Dia harus memperhatikan kebutuhan pasiennya. Apabila memerlukan pembedahan maka dilakukan operasi. Apabila membutuhkan amputasi maka haruslah dipotong anggota badannya tersebut agar penyakit yang diderita tidak menyebar dan menular ke bagian yang lain.
Inilah potret seorang yang yang mampu menentukan prioritas dalam berdakwah. Dia mampu menempatkan amalan apa yang harus dikerjakan dengan segera, apa yang dapat diakhirkan dan ditunda, serta amalan apa yang jangan dikerjakan.
Berdakwah kepada atheis
Atheis merupakan sebutan bagi mereka yang tidak percaya adanya sang pencipta Hingga kini mereka tetap eksis di dunia ini. Padahal kita hidup di masa ketika teknologi dan informasi pesatnya. Masa ketika banyak ditemukan penemuan-penemuan yang menyingkap kebesaran sang pencipta tak terbantahkan lagi. Namun tetap mereka mengingkari adanya Sang Pengatur alam raya dan mengatakan bahwa semua ini terjadi dengan sendirinya. Kehancuran serta kematian merekapun bukan kehendak Sang Pencipta namun karena masa.
Oleh karenanya mereka tidak mengenal selain kehidupan dunia. Hidup hanya mencari kesenangan dunia. Semua hanya untuk memenuhi kebutuhan syahwat. Tidak ada balasan bagi mereka yang berbuat baik dan tak ada siksaan bagi yang berbuat semena-mena. Kehidupan dan kematian berjalan dengan apa adanya.
Andaikata ada seseorang yang berdiri di tepi sungai kemudian dia melihat sebongkah kayu mengalir menghampirinya dan dengan sendirinya kayu tersebut berubah bentuk menjadi perahu dapatkah hal ini dipercaya? Maka sungguh tepat sekali pepatah arab yang mengatakan "Anak onta membuktikan adanya onta (induk)". Bukankah hamparan alam semesta ini menunjukkan sang pencipta? Adakah orang yang berakal masih ragu tentang adanya sang pencipta?
Namun bukan berarti kedudukan mereka tersebut membuat kita berpaling dan meninggalkan serta tidak berdakwah kepada mereka. Hal ini tentu lebih buruk madhorotnya. Lantas siapakah yang akan mendakwahi mereka dan menyeru kepada Islam?
Kedudukan Atheis
Sebelum berdakwah kepada mereka dai perlu mengetahui kedudukan mereka dalam tinjauan syar'i. Setidaknya pengetahuan tersebut dapat menjadi landasan untuk melakukan tindakan.
1. Iblis lebih baik
Iblis adalah makhluk yang dilaknat Allah swt, diusir dari jannah, dan akan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya. Bukan karena iblis tidak beriman kepada sang pencipta, namun karena dia menyombongkan diri dan menolak untuk sujud kepada Adam. Dia menyatakan dirinya lebih mulia daripada Adam sehingga enggan untuk bersujud. Hal ini diceritakan Allah dalam firman-Nya:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam"; maka mereka pun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (Al A'rof: 11-15)
Ayat tersebut menceritakan tentang permintaan iblis agar ditangguhkan penyiksaan terhadap dirinya. Dia menyeru "Wahai Rabbku". Di sini iblis menyebut Allah dengan Rabbku. Walaupun dia menolak bersujud kepada Adam namun dia tetap mengakui Allah sebagai rabb. Padahal secara makna rabb adalah pencipta, pemilik, pengatur, yang mendatangkan maslahat, yang memberi rizqi.
Lantas orang-orang atheis tidak mempercayai adanya pencipta. Maka layaklah bagi kita menyebut iblis lebih baik daripada atheis –walaupun keduanya merupakan penghuni neraka-.
2. Orang musyrik masih beriman
Bukan karena tak percaya adanya sang pencipta atau karena durhaka kepada rasul-Nya . namun disebabkan dia menduakan dalam ibadah, merekapun termasuk yang akan menjadi penghuni neraka. Mereka beriman kepada Allah dan mereka mengakui Allahlah yang memberi rizqi. Hal inilah yang difirmankan Allah :
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ (87) (المؤمنون: 86-87)
Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya 'Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" (Al Mu'minun: 86-87)
Imam at Thobary menafsirkan ayat ini beliau berkata: Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad untuk bertanya kepada mereka (orang-orang musyrik): Siapakah Rabb pencipta langit tujuh dan Rabb 'Arsy yang Maha Mengetahui? Tentu mereka akan mengatakan semua itu milik Allah, dan Dialah Rabb penciptanya. Kemudian katakanlah kepada mereka: Apakah kalian tidak takut terhadap balasan-Nya atas kekufuran kalian, pendustaan kalian terhadap kabar-Nya dan kabar rasul-Nya?
Sebab kekufuran mereka adalah karena menjadikan berhala-berhala yang mereka sembah sebagai perantara kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (3) الزمر : 3
"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar." (Az Zumar: 3)
3. Fir'aun hatinya yakin
Meskipun fir'au mengaku dirinyalah rabb tertinggi sebagaimana difirmankan Allah :
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى (النازعات :24)
(Seraya) berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi". (An Nazi'at: 24)
Namun pada hakekatnya di dalam hatinya yang dalam dia yakin. Disebabkan kesombongannyalah dia enggan mengucapkan kalimat tauhid.
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ (النمل :4)
"Dan mereka mengingkarinya karena kelaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan." (An Naml: 14)
Imam At Thobari menafsirkan ayat ini: "Ketika datang ayat-ayat dari Allah (tofan, belalang, kutu, katak dan darah) dia mengingkarinya dan dia mengatakan itu adalah sihir yang nyata. Padahal di dalam hatinya dia mengetahui dengan yakin bahwa semua ayat-ayat itu datang dari Allah ldisebabkan karena kedholiman dan kesombongan.z
Dibalik tindakan semena-menanya, penindasannya terhadap bani Israel, pembunuhan anak laki-laki yang terlahir dari setiap rahim wanita, serta tindakan kekejian lainnya ternyata menyimpan keyakinan adanya sang pencipta.
Dari pemaparan di atas menunjukkan bahwa kedudukan atheis lebih hina daripada iblis, fir'aun, dan orang-orang musyrik sekalipun. Sebab iblis, fir'aun, dan orang-orang musyrik masih mengakui adanya sang pencipta. Sedangkan atheis mereka menolak dan tidak mempercayainya.
Metode Dakwah Kepada Mereka
Setelah mengetahui bagaimana kedudukan mereka, tentu dalam menyeru mereka memerlukan metode tersendiri. Dibutuhkan seni dalam berdakwah kepada mereka. Setidaknya ada beberapa metode yang dapat digunakan.
1. Dalil Fitriyah
Fitroh adalah keadaan awal manusia diciptakan. Rasulullah n bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تَنْتَجُ الْبَهِيْمَةَ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّوْنَ فِيْهَا جَدْعَاءَ؟
"Tidaklah setiap anak yang terlahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitroh. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana binatang ternak yang melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna. Apakah kalian mendapatkan dia cacat?
Hikmah berdakwah kepada mereka adalah seorang dai menggunakan dalil-dalil fitriyah. Dia menjelaskan bahwa setiap anak yang terlahir dalam bentuk apapun siap menerima agama, apabila dibiarkan begitu saja maka dia akan condong terhadap apa yang disukai. Dan setiap anak terlahir dengan mengetahi Allah dan menetapkannya sebagai rabb yang berhak disembah.
Maksud fitroh adalah fitroh islam dan selamat dari keyakinan-keyakinan batil serta menerima aqidah shohihah. Sesungguhnya hakekat islam adalah berserah diri hanya kepada Allah semata.
Rasulullah n menjelaskan bahwa selamatnya hati dari cacat laiknya selamatnya badan dari aib. Sedangkan cacat merupakan perkara yang baru –dalam artian setelah dia dilahirkan-. Rasulullah n bersabda:
إِنِّيْ خَلَقْتُ عِبَادِيْ حُنَفَاءَ كُلُّهُمْ وَ إِنَّهُمْ أَتْتْهُمُ الشَّيَاطِيْنُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِيْنِهِمْ وِ حَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَ أَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوْا بِيْ مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانَا
"Sesungguhnya Aku menciptakan hambaku dalam keadaan lurus. Kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan dari agama mereka. (Setan tersebut) mengharamkan apa yang telah Aku halalkan bagi mereka dan memerintahkan untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ku beri kekuasaan."(HR. Muslim dan Ahmad)
Imam nawawi mensyarh hadits ini: manusia diciptakan dalam keadaan fitroh yakni muslim. Ada yang mengatakan mereka suci dari maksiat. Pendapat lain bahwa mereka lurus dan mau menerima hidayah. Namun syaithon menggelincirkan mereka dan menghalangi mereka dari agama mereka.
Ibnu Taimiyah berkata: "Permisalan fitroh dengan kebenaran seperti mata dengan matahari. Maka setiap yang memiliki mata, apabila tidak dihalangi dengan hijab tentu dapat melihat matahari. Sedangkan keyakinan batil seperti yahudi, nasrani, dan majusi seperti hijab (penghalang) yang menghalangi mata untuk melihat matahari. Begitu juga setiap yang memiliki panca indra yang sehat suka terhadap rasa manis. Kecuali apabila terdapat kerusakan dalam jaringannya sehingga mengubah rasa manis terasa pahit.
Bukan berarti ketika dia terlahir dalam keadaan mengenal islam dan meyakini islam dengan amalannya. Sebab Allah berfirman: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (An Nahl: 78)
Akan tetapi maksudnya adalah fitrohnya untuk mengetahui islam dan mau menerima kebenaran serta menetapkan rububiyatullah. Apabila dia tidak diajari selain islam tentu dia akan menjadikan islam sebagai agamanya.
Allah telah mengabarkan bahwa dia mengeluarkan manusia dari tulang sulbi adam dan meminta persaksian mereka bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah: "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al A'rof: 172)
2. Dengan Dalil-Dalil aqliyah
Apabila orang-orang atheis, komunis, dan yang lainnya mengingkari wujud Allah l maka metode dakwah kepada mereka dapat menggunakan metode dalil-dalil aqliyah sebagai berikut:
a. Tiada Kata Kebetulan
Mereka berkeyakinan bahwa semesta ini terjadi dengan sendirinya. Batu-batuan, pohon-pohonan, lautan, danau, sungai, hewan-hewan, dan manusia seuanya merupakan hasil evolusi alam. Tidak ada yang menciptakannya dan mengaturnya, serta tidak ada maksud di balik penciptaannya.
Kepada mereka kita katakan: bagaimana keteraturan yang sempurna ini dapat terjadi dengan sendirina? Dapatkah semua ini terjadi denagn kebetulan? Dapatkah seluruhnya diterima akal? Adakah yang dapat menerangkan seluruh kebetulan ini?
Langit berjalan sesuai dengan porosnya, bulan beredar mengelilingi bumi, satelit-satelit berputa sesuai dengan jalur edarnya, siklus air menguap dan menjadi hujan. Manusia lahir menjadi anak, dewasa, dan mati, serta seluruh keteraturan lainnya dapatkah dikatakan hanya sebuah kebetulan?
Seperti seseorang yang berjalan di jalan raya dengan berjalan kaki, naik motor, mengendarai mobil tanpa ada lampu lalu lintas yang mengaturnya. Dapatkah semua berjalan tanpa terjadi tabrakan atau kekacauan? Tentu saja jawabannya adalah tidak!
Apabila ada seseorang yang membenarkan pernyataan "kebetulan" maka dia pastilah orang yang tidak sehat akalnya. Sebab tidak mungkin mereka yang berakal mengatakan hal tersebut. Allah berfirman: "Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan) mu sampai masa yang ditentukan?" Mereka berkata: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata." (Ibrohim: 10)
Ayat di atas merupakan dalil qoth'I (pasti) tentang adanya Sang Pencipta segala sesuatu. Tiada kata kebetulan dalam keteraturan alami ini.
b. Yang Tidak Ada Tak Dapat Mencipta
Kaidah aqliyah yang selayaknya digunakan oleh dai adalah yang tidak ada tidak dapat mencipta. Maka sesuatu ang tidak ada wujudnya tidak dapat mencipta sesuatu apapun karena tiada ada wujudnya.
Apabila seseorang yang berakal memperhatikan makhluk-makhluk yang ada di sekitarnya, manusia melahirkan, hewan beranak, angin bertiup, hujan turun, gemuruh suara halilintar, pergantian malam dan siang, peredaran matahari, bulan, bintang yang begitu teraturnya. Apabila dia memperhatikan ini semua tentu akalnya akan berkata bahwa ini semua bukan ciptaan dari yang tidak ada. Namun ini diciptakan oleh sang pencipta dari yang maujud (yang ada).
c. Sesuatu Yang Tidak Mempunyai Tidak Memberi
Merupakan hal maklum (yang telah diketahui) bahwa yang tidak memiliki harta tidak akan dimintai sesuatu. Orang yang bodoh tidak akan keluar darinya ilmu. Sebab yang tidak mempunyai sesuatu tidak akan memberi.
Apabila meeka menyangkal bahwa alam inilah yang mencipta sungguh menyelisihi akal. Sebab alam tidak memiliki pengalaman sedangkan yang diciptakan memiliki pengalaman. Alam tidak memiliki keinginan dan mereka memiliki keinginan. Alam tidak memiliki ilmu sedangkan mereka memiliki. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa yang tidak memiliki tidak dapat memberi? Apakah mereka tidak memiliki kemampuan tidak akan dapat mencipta sesuatu? Allah berfirman: "Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." (Al Hajj: 73)
Maka sang Kholik (pencipta) haruslah sempurna mutlak dengan memiliki sifat berikut ini:
- Tidak membutuhkan yang lain
- Menjadi yang pertama tanpa ada pendahulunya, dan menjadi yang terakhir tanpa ada yang sesudahnya
- Tidak terbatas ruang lingkup waktunya
- Tidak memiliki batasan tempat
- Mampu melakukan segala sesuatu
- Mengetahui segala sesuatu, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, yang belum terjadi, dan apa yang tidak akan terjadi serta bagaimana semua itu terjadi
d. Hukum Klausal (Sebab-Akibat)
Akal yang sehat menyaksikan bahwa sejak manusia membuka matanya maka dia tidak akan menyaksikan suatu kejadian kecuali pasti ada sebabnya. Atau sesuatu terwujud tanpa ada sesuatu yang tidak ada. Tidak ada yang mengakui hal itu kecuali akal yang sakit.
Bahkan orang baduipun mengetahui hukum klausal. Contohnya adalah ketika mereka ditanya tentang dalil adanya Rabb pencipta. Mereka akan menjawab: "Subhanallah, sesungguhnya anak onta menunjukkan keberadaan induk ontanya". Sesungguhnya jejak menunjukkan bekas perjalanan. Langit yang menjulang tinggi, bumi terhampar luas, laut bergelombang, malam gelap gulita, siang terang benderang, bukankah itu menunjukkan adanya Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui?
Setiap makhluk pasti ada penciptanya. Setiap sesuatu pasti akan meninggalkan jejaknya, penemuan yang baru pasti ada yang menemukannya dan ini merupakan qiyas yang benar.
Atas dasar inilah kita mengetahui bahwa bumi, langit, manusia, hewan, matahari, bulan, malam dan siang pasti penciptanya. Dan semua ini tidak ada yang mampu menciptakannya kecuali Allah Yang Maha Kuasa.
e. Ciptaan Menunjukkan Sebagian Sifat Sang Pencipta
Kaidah ini juga dapat digunakan untuk membantah orang-orang atheis. Yakni ciptaan menunjukkan sebagian sifat sang pencipta. Sebab segala sesuatu yang terdapat dalam ciptaan menunjukkan kemampuan, ilmu, serta pengetahuan serta hikmah Sang Pencipta. Dari sini kita mengetahui bahwa berfikir tentang ciptaan menunjukkan sebagian sifat Sang Pencipta.
Apabila mereka tetap mengingkarinya maka kita katakana kepada dia: "Perhatikan dalam penciptaanmu, lihatlah awal penciptaanmu ketika masih berupa air mani kemudian segumpal darah dan menjadi segumpal daging kemudian ada tulang dan daging yang melapisinya hingga menjadi manusia yang sempurna anggota badannya baik yang dhohir (organ luar) dan batin (organ dalam)".
Tidak diragukan seorang yang berakal dan jujur apabila memikirkan hal itu tentu akan menghantarkannya pada pengakuan terhadap kebesaran sang pencipta dan kekuasan-Nya serta hikmah-Nya.
3. Tanda-Tanda Yang Dapat Ditangkap Dengan Panca Indra
Di antara dalil-dalil yang menunjukkan wujud Allah dan rububiyah-Nya bahwa Allahlah yang paling berhak untuk disembah adalah dalil-dalil yang dapat didengar dan dilihat oleh panca indra. Dan dalil ini ada dua macam:
a. Terkabulnya doa di setiap waktu
Tak dapat terhitung berapakah hamba Allah yang dikabulkan doanya. Berapa banyak yang meminta kepada-Nya dan Allah pun mengangkat darinya musibah tersebut. Ini semua merupakan tanda-tanda nyata serta tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang sombong.
Berapa banyak orang-orang mukmin yang kelaur dengan hati taubat dan meminta kepada Rabb mereka agar menurunkan hujan. Kemudian datang awan kelam disertai mendung yang menaungi desa atau kota di mana mereka orang-orang berdoa di sana dan turunlah hujan. Padahal desa disekitarnya tidak terkena hujan sedikitpun. Berapa banyak pula orang-orang yang terdesak mendapatkan jalan keluar dari masalah mereka. Dan seringkali permintaan tersebut terkabul dengan segera. Allah berfirman:
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ
"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya)." (An Naml: 62)
Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: "Allah mengingatkan bahwa Dialah yang diseru ketika manusia memiliki kebutuhan yang sangat. Tidak ada seorangpun yang menemui kesusahan kecuali pasti kepada-Nya mereka berdoa."
Hal ini disaksikan oleh jutaan kaum muslimin dan jutaan manusia lainnya di belahan bumi timur dan barat.
Siapakah yang mendengar doa yang meminta pertolongan kemudian mendatangkan pertolongan dan menurunkan hujan? Apaah dia berhala yang tidak dapat melakukan apapun?
Tentunya setiap orang yang menyaksikan semua hakekat ini akan terusik aklanya dan mengakui bahwa ada Rabb Yang Maha Kuasa Maha Melihat Maha Mendengar Maha Pengkabul.
b. Mukjizat
Ini merupakan tanda terbesar yang menunjukkan adanya yang mengutus para rasul. Sebab hal ini merupakan perkara yang di luar kemampuan manusia. Allah memberikannya sebagai penguat para rasul-Nya dan untuk melindungi mereka.
Sebagai contoh adalah Mukjizat nabi Musa as. Ketika Allah memerintahkannya untuk memukul laut dengan tongkatnya. Maka diapun memukulnya dan seketika laut terbelah menjadi dua dan airnya menjulang tinggi bak gunung. Kaum nabi Musa pun dapat melewati laut tersebut dan menyelamatkan diri dari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya. Allah berfirman: "Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar." (Asy Syu'aro: 63)
Mukjizat nabi Isa yang dapat menghidupkan mayat dan mengeluarkannya dari kubur mereka dengan izin Allah, menciptakan burung dari tanah serta menyembuhkan orang buta.(Al Maidah: 110)
Mukjizat nabi Muhammad n yang dapat membelah bulan. Yakni ketika orang-orang quraisy meminta tanda kebenaran kepada beliau. Maka rasulullah n pun menunjuk ke bulan dan terbelahlah menjadi dua. Mereka semua melihat kejadian tersebut dengan nyata. (Al Qomar: 1-2)
Tanda-tanda tersebut merupakan tanda paling nyata yang menunjukkan keberadaan Allah l.
4. Berdebat dengan mereka
Cara ini dapat digunakan untuk mematahkan argumen mereka. Para salaf pun menggunakan cara ini untuk mematahkan argumen mereka. Sebagai contoh adalah kisah Imam Abu Hanifah ketika berdebat dengan orang atheis yang mengingkari eksistensi Allah. Beliau pun bercerita kepada mereka:
"Bagaimana pendapat kalian, jika ada sebuah kapal diberi muatan barang-barang, penuh dengan barang-barang dan beban. Kapal tersebut mengarungi samudera. Gelombangnya kecil, anginya tenang. Akan tetapi setelah kapal sampai di tengah tiba-tiba terjadi badai besar. Anehnya kapal terus berlayar dengan tenang sehingga tiba di tujuan sesuai rencana tanpa goncangan dan berbelok arah, padahal tak ada nahkoda yang mengemudikan dan mengendalikan jalannya kapal. Masuk akalkah cerita ini?
Mereka mengatakan: "Tidak mungkin. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diterima akal, bahkan oleh khayal sekalipun, wahai syeikh." Lalu Abu Hanifah berkata: "Subhanallah, kalian mengingkari adanya kapal yang berlayar sendiri tanpa pengemudi, namun kalian mengakui bahwa alam semesta yang terdiri dari lautan yang membentang, langit yang penuh bintang dan benda-benda langit serta burung yang berterbangan tanpa adanya Pencipta yang sempurna penciptaan-Nya dan mengaturnya dengan cermat?! Celakalah kalian, lantas apa yang membuat kalian ingkar kepada Allah?!
5. Dalil Syar'iyah
Jalan menuju hidayah adalah dengan mengikuti apa yang datang dari Allah dan rasul-Nya. Yakni mengumpulkan dan menggabungkan antara dalil naqli dan dalil aqli. Dalil naqli inilah petunjuk yang paling berpengaruh dalam menunjuki manusia kepada ma'rifatullah dan beriman kepada-Nya. Serta mendorong yang diberi petunjuk untuk beramal guna mensucikan diri serta membawa kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Berbeda dengan dalil aqliyah. Walaupun dapat mengeluarkan seseorang dari kebimbangan dan kebingungan fikiran. Namun tidak dapat membersihkan jiwa, tak dapat meluruskan akhlak, serta tak dapat mengeluarkan seseorang dari kekafiran hingga dia beriman dengan dalil-dalil syar'iyah dan beramal dengan konsekuensinya.
Dan semua kitab samawiyah berbicara bahwa Allah pencipta segala sesuatu. Dan hanya Dialah yang berhak untuk diibadahi. Serta hukum-hukum yang mengandung maslahat untuk kehidupan manusia menunjukkan Dialah Rabb Hakim yang mengetahui semua maslahat hambanya. Semua pengkabaran tentang alam semesta menunjukkan kebenaran-Nya dan menunjukkan bahwa dialah Rabb yang berkuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang Dia kabarkan.
Secara ringkas dalil syar'iyah menetapkan wujud Allah. Dialah rabb segala sesuatu, pemiliknya, dan pengatur segala sesuatu di dalamnya. Maka selayaknya ibadah diperuntukkan baginya.
Adapun cara yang digunakan oleh dalil syar'I dalam menetapkan hal itu ada dua:
a. Allah mengajak penglihatan dan hati untuk memikirkan segala ciptaan.
Allah menjelaskan dalam kitab-Nya ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan wujud-Nya, kesempurnaan kekuasaan-Nya, keagungan pengaturan di dalamnya, kedetailan ciptaan-Nya. Di antaranya penciptaan manusia, hewan, tumbuhan, angin yang berhembus, pergantian malam dan siang serta ayat-ayat lain yang menunjukkan keagungan Sang Pencipta. Allab berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (164)
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (Al Baqoroh: 164)
b. Mukjizat para nabi
Allah menguatkan rasul-Nya dengan mukjizat yang di luar kemampuan akal. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kebenaran nubuwatnya, serta menetapkan kerosulannya. Apabila nubuwat atau kenabian seorang rasul telah tetap maka hal itu menunjukkan kebenaran sang pengutus. Sebab pembenaran terhadap utusan menuntut konsekuensi pembenaran terhadap yang mengutus.
Khotimah
Bagaimanapun orang-orang atheis berhak mendapatkan dakwah kita. Bagaimanapun keadaan mereka bukan berarti menjadikan kita berpaling dan tidak berdakwah kepada mereka. Inilah jalan yang dipahami oleh para shalafush shaleh. Begitu juga datang ayat-ayat dan hadits yang menunjukkan tentang metode dakwah kepada mereka. Maka selayaknya bagi setiap dai untuk mempelajarinya sehingga amanah yang dia emban dapat terlaksana dengan semestinya.
Referensi:
- Perangkap setan, Ibnul Jauzy, penerjemah Kathur Suhardi, Al Kautsar, Jakarta, cetakan keenam 2002
- Al Hikmah fie Da'wah Ilallah, Sa'id bin Aly bin Wah al Qohthony, cetakan kedua 1413 H/1992 M
- Jejak Para Tabi'in, Dr. Abdurrahman Ra'fat Basya, Pustaka At Tibyan
- Aqidah Tauhid, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan, Muassasah Haramain al Khoiriyah
- Syarh Shohih Muslim, Imam an Nawawi
- Tafsir Ath Thobari
- Tafsir Ibnu Katsir
Tampilkan postingan dengan label fiqh dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiqh dakwah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 Juni 2009
Rabu, 06 Mei 2009
DAKWAH LEWAT INTERNET? Why Not!
Pada tahun 1995 tercatat pengguna internet sebanyak 16 juta orang dan tahun 2008 melonjak menjadi 1 Miliar. Bahkan diperkirakan pada tahun 2010 akan menjadi 1,6 Miliar. Di Indonesia sendiri per tanggal 31 Desember 2007, pengguna internet berjumlah sekitar 20 juta, dengan pertumbuhan pengguna dari tahun 2000 hingga 2007 sekitar 900%.
Dengan besarnya pertumbuhan internet di tanah air khususnya dan dunia umumnya, maka sudah saatnya untuk melirik dan menjadikannya sebagai sarana dakwah.
Dakwah Lewat Dunia Maya
Perkembangan teknologi komunikasi telah melalui perubahan yang cukup signifikan sejak awal generasi. Saat ini, nyaris tidak ada lagi batasan bagi manusia untuk dapat berkomunikasi kapan saja dan di mana saja. Perkembangan informasi tidaklah menunggu hari, jam, atau menit, bahkan dalam hitungan detik terdapat ribuan informasi baru di internet.
Lalu, apa sajakah yang telah dicapai oleh umat Islam saat ini? Teknologi apa sajakah yang dapat di manfaatkan para dai? Apa yang akan diharapkan dari teknologi komunikasi di masa depan? Pertanyaan-pertanyaan ini hanyalah segelintir pemikiran yang ingin dijawab oleh penulis di makalah ini.
Setidaknya ada beberapa fasilitas internet yang dapat digunakan dai dalam menyebarkan dakwahnya:
1. Blog
Blog adalah kependekan dari Weblog. Seringkali blog digunakan untuk menyebut website pribadi yang selalu diupdate (perbaharui) secara terus-menerus dan berisi link-link ke website lain yang dianggap menarik, dan disertai komentar-komentar pemilik blog dan pengunjungnya.
Pada awal kemunculannya, blog hanya digunakan untuk menulis catatan harian ataupun jurnal pribadi secara online di internet. Bahkan tak jarang yang menggunakannya hanya sekedar sebagai “diary online”. Topik bahasannya pun sesuai dengan hobi atau minat blogger (baca: tukang ngeblog).
Namun beberapa tahun terakhir blog mulai mengalami pergeseran fungsi dari sejak pertama kali dikenal. Para blogger mulai menggunakannya untuk mempublikasikan bisnis, koleksi foto, video, dan tak sedikit yang mulai fokus terhadap satu objek informasi, misalnya politik, web design, olah raga, kesehatan, jurnalistik, dll.
Sebagian aktivis dan pegiat dakwah pun mulai memanfaatkan teknologi untuk kemajuan dakwah. Sebagai contoh ketika mengetikkan “blog dakwah” di google.com akan muncul 1.970.000 hasil pencarian.
Hal ini wajar sebab sejak diperkenalkan (1997) hingga sekarang, terdapat jutaan weblog. Bahkan setiap harinya tumbuh sepuluh ribu blog baru. Pada saat ini saja terdapat puluhan penyedia layanan untuk pembuatan blog secara gratis. Prasyaratannya pun tidak sulit, tidak harus mengerti bahasa pemrograman atau web design. Hanya dibutuhkan kemauan dan sedikit kejelian untuk mempelajari cara pembuatannya.
Adapun beberapa keuntungan kita memiliki blog adalah :
- Memperluas dakwah
- Tempat Apresiasi Hasil Tulisan
- Publikasi Kajian
- Memperluas Hubungan
- dll
Di bawah ini beberapa alamat penyedia blog yang dapat diakses:
www.blogger.com, www.blogsome.com, www.multiply, www.xanga.com, www.blogdrive.com, www.blog.com, www.wordpress.com, www.dagdigdug.com
2. Milis
Mailing list atau lebih dikenal dengan milis merupakan kelompok diskusi di mana setiap orang berbincang tentang topic yang mereka inginkan dan dapat berlangganan dan berpartisipasi di dalamnya. Untuk menjadi anggota hanya disyaratkan mendaftarkan diri ke salah satu milis dengan menggunakan e-mail.
Setelah terdaftar sebagai member, anggota dapat membaca e-mail kiriman anggota milis kemudian mengirimkan balasannya apabila berminat. Kita bisa mengirimkan satu email kepada seluruh anggota milis hanya dalam satu kali kirim.
Berdasarkan topic diskusi, milis ada bermacam-macam. Ada milis umum, seperti milis bagi penulis lepas, dunia jurnalistik, teknologi, dan yang lainnya. Ada juga milis islami yang membahas berbagai masalah agama, seperti tafsir, fiqh, aqidah, dakwah, dan lainnya.
Tidak cukup sekedar menjadi anggota, bahkan kita dapat membuat milis sesuai dengan kebutuhan. Tentunya sebagai dai yang ingin menyebarkan dakwahnya dapat membuat milis yang berkaitan dengan dakwah yang ditekuni sekaligus kita akan menjadi moderatornya. Dari milis inilah kita dapat menyampaikan pemikiran kita kepada para anggota milis.
Misalnya saja untuk melawan penyebaran JIL (Jaringan Islam Liberal), dapat dibuat milis dengan nama “TERAPI_JIL”, “ANSHORUS_SUNNAH”, atau nama lainnya yang representative.
Salah contoh forum dakwah yang terdapat di internet adalah forum yang beralamatkan islam_bersatu@yahoogroups.com. Ini merupakan forum diskusi umat Islam yang tidak membedakan latarbelakang kepentingan, kelompok, golongan maupun aliran pemikiran. Forum ini merupakan forum diskusi bebas yang menampung diskusi muammalah, fiqih, syariah, kajian tafsir & hadits, perbandingan agama, serta berbagai masalah aktual lainnya yang biasa dihadapi umat Islam sehari-hari. Motto mereka adalah “Mari kita tegakkan syiar & dakwah Islam, kebenaran pasti akan menang & kebathilan pasti akan terkalahkan.”
Dan pada saat ini sudah banyak sekali milis yang turut serta dalam dakwah islam. Ketika penulis mencoba mencari kata “dakwah” di “Yahoo! Groups” (salah satu penyedia layanan milist) terdapat 1110 hasil pencarian. Hasil yang cukup menggembirakan. Ternyata, banyak pegiat dakwah yang sudah mulai mengepakkan sayap dakwahnya melalui jalur ini.
Selain alamat milis di atas masih banyak alamat milis dakwah yang memiliki cukup banyak member. Di antaranya :
media-dakwah@yahoogroups.com, dakwah@yahoogroups.com,
buletin_dakwah@yahoogroups.com, sabiq_itb2007@yahoogroups.com,
Diari_Dakwah@yahoogroups.com, Fosil-MMIT@yahoogroups.com,
grahadakwah@yahoogroups.com.
3. Forum Diskusi
Bila digambarkan forum diskusi adalah layaknya suatu tempat di mana terdapat ruangan-ruangan diskusi yang terpisah, dan tiap-tiap ruangan mempunyai topik diskusi yang berbeda-beda. Di setiap ruangan itu bisa terdapat lebih dari satu orang yang saling bertukar pendapat atau pikiran. Jadi kita memberikan pendapat kita ke semua orang yang ada di ruangan tersebut.
Yang membedakan antara forum diskusi dan milis adalah sarana yang digunakan. Milis menggunakan e-mail sebagai alat komunikasi. Interaksi dilakukan dengan mengirimkan email ke e-mail moderator kemudian diteruskan ke e-mail anggota secara otomatis. Begitu pula untuk menjawab atau berkomentar.
Sedangkan forum diskusi menggunakan layanan web. Interaksi forum dilakukan di satu alamat WWW ( World Wide Web) tertentu. Untuk bertanya, menjawab, dan berkomentar anggota haruslah mengunjungi alamat tersebut. Setiap anggota bisa meletakkan artikel-artikel atau pendapat-pendapatnya sehingga dapat dilihat dan dibaca oleh semua orang.
Di internet terdapat ribuan forum dakwah. Pencarian dengan mengkhususkan halaman yang memiliki judul “forum dakwah” menghasilkan 7080 hasil pencarian. Ini merupakan pencarian di halaman berbahasa Indonesia dan belum menggunakan bahasa Inggris, bahasa Arab, dan yang lainnya. Padahal tidak sedikit forum-forum semisal yang tersebar di internet dari berbagai negara. Para mujahidin pun mulai menggunakan media dakwah ini dalam menyebarkan fikroh jihadinya. Tak mau kalah para penyebar kebathilan pun turut menggunakannya dalam menyebarkan kesesatan.
Kita tidak sekedar dapat menjadi anggota forum diskusi saja, bahkan kita dapat mengelola forum diskusi dakwah semisal. Dengan sarana ini kita dapat ikut menyebarkan dakwah islamiyah dan meng-counter pemikiran “nyeleneh” dan yang menyimpang dari islam.
Berikut ini beberapa alamat forum diskusi dakwah yang dapat dijadika sample (contoh) dalam pembuatan forum semisal: http://an-nuur.org, http://blog.assunnah.web.id, http://www.kajianislam.net, http://hudzaifah.org, www.kajianislam.net, dan yang lainnya.
4. Wikipedia
Berbagi pengetahuan di internet merupakan hal yang wajar. Bahkan sudah menjadi tradisi para pengguna internet. Salah satu cara untuk berbagi pengetahuan yang dimiliki adalah dengan membuat tulisan di website ensiklopedia terbuka seperti Wikipedia.
Wikipedia sendiri merupakan ensiklopedi digital terlengkap yang ada di dunia maya. Bila diibaratkan, wikipedia layaknya perpustakaan digital yang mendunia. Kapanpun dan di manapun berada setiap orang dapat mengaksesnya. Oleh karenanya wikipedia sering dijadikan rujukan bagi para netter (pengguna internet) ketika mencari istilah atau suatu masalah.
Padahal tidak semua yang ada di dalamnya benar. Hal ini disebabkan setiap orang diperbolehkan untuk mengisinya. Atas dasar itulah, seorang dai dapat memanfaatkannya dengan memberikan memberikan tulisan, ataupun istilah-istilah Islami. Yang mana istilah islami seringkali diputarbalikkan oleh mereka yang memusuhi Islam. Dengan meng-counter lewat tulisanlah dai ikut berkontribusi dalam menjaga pemahaman umat.
5. Email
Electronic Mail atau yang lebih dikenal dengan e-mail secara bahasa adalah “surat elektronik”. Pada dasarnya konsep email adalah seperti kita mengirim surat dengan pos biasa, hanyasanya pengirim dan penerima berada dalam jaringan internet, tidak di dunia nyata. Pengiriman email pun sangatlah cepat. Hanya dalam hitungan detik seseorang sudah dapat menerima dan mengirim email ke mana pun di dunia ini. File yang dapat dikirim pun bermacam-macam, mulai program, video, audio, gambar, graphic, dan lain sebagainya.
Oleh karenanya email merupakan salah satu fasilitas yang paling banyak digunakan di Internet. Hal ini karena email merupakan alat komunikasi yang paling murah dan cepat. Dengan email kita dapat berhubungan dengan siapa saja yang terhubung ke internet di seluruh dunia dengan biaya pulsa local. Bahkan pada masa sekarang email mampu menggeser telepon dan fax.
Hal ini terbukti dengan lonjakan pengguna email di seluruh dunia sekitar 138 % dari 505 juta pengguna di tahun 2000 dan meningkat menjadi 1,2 miliar di tahun 2005.
Selain fungsi dasar email yang digunakan untuk mengirim dan menerima surat, email memiliki beberapa fungsi lain yang menunjang kegiatan dakwah. Di antaranya:
- Mendaftar sebagai pemilik weblog/ blog
- Mendaftar sebagai anggota milis atau pengelola milis
- Mendaftar sebagai anggota forum atau pengelola forum
Pada saat ini banyak situ yang menyediakan layanan email gratis. Situs-situs tersebut antara lain : www.yahoo.com, www.astaga.com, www.plasa.com, www.lycos.com, www.bolehmail.com, www.eudoramail.com, www.mail.google.com
Penutup
Pada saat ini media merupakan alat yang sangat efektif untuk menyihir opini publik. Kedustaan dan kebatilan dapat disulap menjadi kejujuran di mata masyarakat. “Seribu dusta adalah kejujuran” begitulah orang menyebutnya. Artinya kedustaan jika diungkapkan seribu kali, maka opini orang akan yakin terhadap kebenaran suatu kedustaan.
Maka berangkat dari hadits nabi :“Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan hidayah kepada seorang laki-laki melalui perantaramu lebih baik dari pada engkau mendapatkan khumrin ni’am (unta merah)” , marilah kita berlomba-lomba menggunakan sarana yang telah Allah sediakan untuk mendapatkan kebaikan yang banyak. Baik kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.
Sebagai alat, pada awalnya internet bersifat netral tergantung siapa pemakainya. Tidak dapat dipungkiri kemajuan teknologi bak pisau bermata dua. Di satu sisi, keberadaan internet sebagai sumber informasi dapat menjadi lahan dakwah bagi para dai. Namun di sisi lain, terdapat sisi negatif penggunaan internet yakni dengan meningkatnya angka degradasi moral. Oleh karenanya, dalam menghadapi derasnya arus teknologi maka selayaknya kita harus pandai memilah dan memilih. Sikap proporsional haruslah dikedepankan.
Terlepas dari madhorot sebagian penggunanya, bukan berarti kita meninggalkan semuanya. “Ma la yudroku kulluhu la yutroku jullahu” (apa yang tidak didapatkan seluruhnya maka tidak ditinggalkan sebagiannya). Wallahu a’lam bis showab.
Referensi:
- Al Hikmah fi ad da’wah ilallah, Sa’id bin Ali bin Wahf al Qohthony, maktabah Malik Fahd Al Wathoniyah, Cetakan ketiga Syawal 1317 H/ 1997 M.
- Shohih Bukhori, Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al Bukhori al Ju’fi, Darus Salam linnasyr wat tauzi’, Riyadh, Cetakan pertama 1417 H / 1997 M.
- Shohih Muslim, Imam Abi Al Husain Muslim bin Hijaj bin Muslim Al Qusyairi an Nisabury, Darus Salam lin nasyr wat tauzi’, Riyadh, Cetakan Pertama Robiul Awwal 1419 H / 1998 M.
- Musnad Imam Ahmad, Imam Hafidz Abi Abdillah Ahmad bin Hambal, Baitul Afkar Ad Dauliyyah, Cetakan tahun 1419 H / 1998 M.
- Sunan An Nasai as Shughro, Imam Hafidz Abi Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan an Nasai, Darus Salam lin nasyr wat tauzi’, Riyadh, Cetakan Muharram 1420 H / April 1999 M.
- Sunan Abi Daud, Imam Hafidz Abi Daud Sualiman bin al Asy’ats as Sajestani al Azdi, Dar Ibn Hazm, Cetakan pertama 1419 H / 1998 M.
- Majalah chip Edisi 06 Juni 2008
- www.google.com
Rabu, 29 April 2009
Mensikapi Perpecahan
Namun bukan berarti hal ini menjadi justifikasi (pembenar) atas terjadinya perpecahan ini. Tidak pula membiarkannya dan tidak ikut andil dalam mencegah terjadinya perpecahan.
Sebagai seorang muslim maka sudah menjadi kewajiban dengan tidak membiarkan kesesatan menyebar serta merajalela. Oleh karenanya berikut ini beberapa cara yang dapat ditempuh dalam mensikapi perpecahan ini:
1. Memulai dengan ilmu
Hal ini sebagaiman yang dilakukan oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyah. Pada masa beliau hidup banyak sekali firqoh sesat yang menyebar di tengah masyarakat. Seperti Syi'ah, Shufi, Quburiyah, Jahmiyah, Mu'tazilah, Qodariyah, Bathiiyah, serta firqoh lainnya. Ketika beliau menyadari bahwa kerusakan ini tidak dapat diperbaiki kecuali dengan ilmu. Maka mulailah beliau mendalami dunia ilmu, terutama adalah Al Qur'an dan As Sunnah.
Walaupun beliau tumbuh berkembang di keluarga berilmu, hal tersebut tidak membuat beliau merasa cukup. Inilah yang menunjukkan hikmah beliau. Karena tidak ada hakim (orang berhikmah) kecuali memiliki ilmu bermanfaat. Orang yang tidak memiliki tak dapat memberi.
2. Menyebarkan ilmu
Setelah menguasai berbabagai cabang ilmu terutama kitab dan sunnah, maka beliau mulai menyebarkannya. Beliau bentuk halaqoh-halaqoh ilmu serta majelis ilmu. Lewat majelis dan halaqoh tersebut beliau sebarkan manhaj salaf. Beliau juga mengajak umat ini untuk berpegang teguh terhadap manhaj salaf.
Mengapa manhaj salaf? Sebab merekalah yang paling mengerti terhadap maksud dari al qur'an dan as sunnah, karena kedekatan mereka terhadap rasulullah dan mereka paham terhadap sebab turunnya al qur'an. Selain itu keimanan terbatas dengan apa yang telah ada pada nabi dan para shahabatnya. Maka tidak ada iman kecuali iman mereka, dan tidak ada kebenaran kecuali kebenaran yang terdapat pada mereka.
3. Jidal (Diskusi/ dialog)
Inilah cara yang perlu ditempuh yakni dengan mengadakan debat / diskusi. Ini pula yang dilakukan oleh Ali ketika mengajak Khawarij kembali ke jalan yang benar. Beliau mengutus Abdullah bin Abbas ke perkampungan Khawarij untuk mengadakan diskusi serta bertanya kepada mereka sebab dendam mereka kepada Ali. Mereka mengemukakan 3 alasan. maka Ibnu Abbas pun menjawab dengan argumentasi yang sangat jelas, layaknya cahaya matahari menembus ke dalam kalbu menghidupkan cahaya iman. Diskusi tersebut tidak saja membuat mereka terdiam namun juga mengerti serta menerima alas an yang dikemukakannya. Sehingga belum lagi debat itu selesai, 2000 orang Khawarij bangkit serentak mengatakan kepuasan mereka terhadap keterangan Ibnu Abbas. Mereka memaklumkan penarikan diri mereka dari memusuhi Ali dan kembali ke pangkuan ahlus sunnah wal jamaah.
Ibnu Taimiyah pun pernah menempuh cara yang sama. Ketika para pengikut madzhab sesat menentang kitab Aqidah Wasithiyah karangan beliau maka diadakan debat terbuka. Semua ulama madzhab tersebut hadir dihadapan sulthon serta disaksikan kerumuman manusia. Mereka mendebat syaikh islam dengan argumentasi yang banyak. Namun semua itu dapat beliau patahkan. Beliau juga menjelaskan bahwa aqidah karangan beliau tidaklah dari dirinya sendiri namun berdasarkan al qur'an dan as sunnah, serta ijma' salafush sholih. Sehingga selepas majelis banyak dari mereka memuji Ibnu Taimiyah serta kembali berpegang teguh dengan madzhab salaf.
4. Menulis buku
Cara lain yang dapat ditempuh yakni dengan menulis buku. Buku tersebut berisi penjelasan tentang firqoh / golongan sesat tersebut. Mulai dari pendiri, masa kemunculan, tokohnya, inti ajaran, serta sebab kesesatannya. Cara ini pernah ditempuh oleh Ibnu Taimiyah dengan menulis Minhajus Sunnah.
Buku tersebut memuat firqoh sesat yang merebak pada masa beliau hidup. Beliau paparkan dengan rinci semua hal yang berkaitan dengan firqoh tersebut. Bahkan beliau lebih mengetahui madzhab mereka dari pada mereka sendiri.
Contoh lain dari buku yang memuat tentang firqoh sesat pada saat ini adalah Mausu'ah Muyassaroh. Buku tersebut mengungkap berbagai firqoh sesat yang berkembang kontemporer ini.
MENATA MASA DEPAN DAKWAH
Oleh karenanya ada tiga alasan diperlukannya manajemen dalam dakwah:
1. Untuk mencapai tujuan. Seorang dai perlu memanage dakwahnya sehingga dakwah yang dilakukan dapat membuahkan hasil nyata sesuai dengan impian dan rencana.
2. Untuk menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan. Kadang seorang dai memiliki tujuan yang saling bertentangan dan hal ini tidak disadari di awal perjalanan namun terasa di pertengahan. Oleh sebab itu, perlunya manajemen yang matang sehingga tujuan yang saling bertentangan dapat dihindarkan sedini mungkin.
3. Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas. Keberhasilan dakwah dapat diukur dengan efisiensi dan efektivitas seorang dai. Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar sekaligus memaksimalkan hasil yang diperoleh. Sedangkan efektifitas adalah kemampuan untuk memilih cara yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, dai yang efektif dapat memilih pekerjaan yang harus dilakukan dan atau metode yang tepat untuk melakukannya.
Hal di atas karena keberhasilan tidak datang dengan begitu saja. Selain itu, seiring dengan perjalanan waktu tantangan hidup semakin kompleks dan harus dikelola dengan sedemikian rupa. Meminjam bahasa bisnis, inovasi harus terus dilakukan, pemasaran semakin digencarkan, penyebaran agen semakin diluaskan, dan iklan pun tak henti-hentinya dipublikasikan.
Dengan kata lain, seorang dai tidak boleh kalah dalam memasarkan “produk”nya. Apalagi orientasi “produk” yang ditawarkan adalah jannah dan ridho-Nya. Bukan hanya untuk kenikmatan dunia semata yang hanya bersifat sementara dan fana.
Sayangnya hal ini tidak terlalu banyak disadari oleh sebagian para dai. Ada di antara mereka yang tidak memperdulikannya sedikitpun. Dakwah dilakukan ala kadarnya, tanpa ada rencana, dan tujuan yang jelas. Laiknya air mengalir tanpa mencoba untuk melakukan perubahan sedikitpun ataupun mengarahkannya ke arah yang lebih baik.
Sarana Dakwah
Wasilah memiliki arti sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan. Sedangkan wasilah dakwah berarti sarana yang digunakan seorang dai dalam menyampaikan dakwahnya.
Dalam hal ini sarana dakwah konvensional terbagi menjadi tiga:
1. Dakwah bil qoul (lesan)
Dakwah dilakukan sebatas dengan lesan. Dan hal ini dapat berupa; khutbah, mengajar, presentasi materi, diskusi dan debat ilmiyah, amar ma’ruf dan nahi mungkar, untaian nasehat, dakwah fardiyah, fatwa syar’iyah. Sedangkan perkataan dalam bentuk tulisan dapat dilakukan dengan beberapa cara: menulis artikel, risalah, buku kecil, ataupun dengan buletin.
Seorang dai dapat mengambil ataupun mempergunakan salah satu atau beberapa sarana di atas untuk menyampaikan dakwahnya. Karena setiap masa memiliki kekhususan. Yang mana tidak semua cara dapat berlaku untuk semua masa. Oleh karenanya dai bijaksana mengambil salah satu cara yang sesuai dengan masa tersebut.
Ketika menyampaikan materi tersebut, dai dituntuk untuk menyampaikannya dengan jelas. Kata yang digunakan pun tidak boleh mengandung lebih dari satu makna, kebenaran dan kebathilan. Akan haruslah memilih kalimat syar’iyah yang terdapat sesuai dengan al quran dan as-sunnah.
Dakwah dengan lesan memiliki beberapa kelebihan:
- Ini merupakan sunnah rasululllah r dalam berdakwah.
- Di al qur’an terdapat 300 lebih perintah ” قل “ (katakanlah, serulah).
- Merupakan metode paling praktis, sesuai dengan kondisi mad’u.
Sedangkan kekurangan dari dakwah bil lesan adalah:
- Lingkup dakwah lebih sempit dan bersifat lokal
- Penyebarannya relatif lebih lama dari pada sarana lainnya
- Dibutuhkan dai yang menguasai retorika dakwah dengan baik
- Materi yang disampaikan tidak seluas dengan dakwah bil qolam
1. Dakwah bil Amal
Dakwah ini dapat dilakukan dengan menghilangkan kemungkaran yang ada ataupun menolong kebenaran dan memenangkannya. Dasarnya adalah sabda Rasulullah r :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ ( رواه مسلم و أبو داود و النسائي و أحمد )
“Barangsiapa melihat kemungkaran maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (H.R. Muslim, Abu Daud, An Nasai, dan Ahmad )[1]
Selain dengan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dakwah bil amal dapat dilakukan dengan membangun masjid, membangun universitas islam, membangun ma’had (pesantren), mendirikan perpustakaan umum dilengkapi dengan buku-buku yang bermanfaat dan fasilitas memadai, membangun rumah sakit islam, ataupun membiayai pencetakan buku islami dan membagikannya. Dan hal ini perlu dimanaje dengan sebaik-baiknya. Karena ini semua merupakan salah satu bentuk dakwah ilallah (kepada Allah).
1. Dakwah dengan sirah hasanah (dakwah dengan suri tauladan)
Selain kedua cara di atas, dakwah dengan suri tauladan merupakan cara yang efektif. Bahkan karena terpesona dengan akhlak rasul banyak dari kaum musyrikin yang akhirnya menyatakan masuk islam.
Dus, sebagi pengikutnya, seorang dai dapat memberikan contoh perbuatan terpuji, sifat mulia, perangai baik dan juga komitmennya untuk mengamalkan islam, baik secara dhahir maupun batin. Sehingga setiap gerak-geriknya dapat dijadikan teladan bagi mad’u (objek dakwah). Karena pengaruh dari teladan tersebut lebih mendalam daripada hanya sekedar pengaruh ucapan.
Dan dalam berdakwah bis sirah hasanah harus dibangun atas dua pondasi:
a. Akhlak Mulia
Seperti tawadhu’, menepati janji, amanah, keberanian, shabar, syukur, hilm (lembut), taqwa, sifat malu, suka memaafkan, dermawan, shidq, adil, menjaga lesan, dan juga penyayang.
b. Kesesuaian Antara Perkataan dan Perbuatan.
Yakni setiap perilaku seorang dai haruslah sesuai dengan syar’I. perbuatannya tidak boleh menyelisihi perbuatannya, dan apa yang nampak tidak boleh menyelisihi yang bathin (tidak nampak). Apabila memerintahkan sesuatu maka dia juga melaksanakannya. Dan apabila melarang sesuatu maka dialah yang pertama kali menginggalkannya. Agar apa yang dia sampaikan didengar, bermanfaat bagi orang lain dan juga diikuti. Sedangkan seorang dai yang memerintahkan kepada kebaikan namun tidak melaksanakannya dan melarang dari perbuatan buruk namun dia menerjangnya, maka niscaya akan menjadi batu penghalang dakwahnya.
[1] Diriwayatkan Muslim no. 177 hal. 42, Abu Daud no. 1140 hal. 180, An Nasai no. 5011 hal. 687, dan Ahmad no. 11089 hal. 782
Langganan:
Postingan (Atom)