Islam merupakan agama universal yang mengatur sleuruh aspek kehidupan manusia tanpa terkecuali. Mulai urusan yang remeh sejak bangun tidur hingga ketika akan tidur kembali. Mulai urusan antara manusia dengan sang pencipta. Dari urusan pribadi hingga urusan ijtima'i. tak terkecuali adalah urusan Negara.
Maka sungguh benar janji Allah yang telah menyempurnakan dien ini dan menjadikannya sebagai dien yang diridhoinya.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا (المائدة: 3)
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu"
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآَنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا نُفُورًا (41)
"Dan sesungguhnya dalam Al Qur'an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)."
Namun tetap saja masih ada yang mengingkari bahwa islam telah mengatur tata negara melalui ajarannya. Sejarah yang ada seakan dianggap tiada dan dusta belaka. Dan ironis memang sejarah yang mereka saksikan tidak semakin mendekatkan mereka kepada islam, bahkan hanya menambah mereka lari dari kebenaran.
Lantas bagaimanakah islam mengatur tentang urusan Negara? Terutama tentang pengangkatan pemimpin? Adakah hal itu dalam islam?
Mengangkat Imam Merupakan Kewajiban
Sesungguhnya pengangkatan seorang amir (pemimpin untuk mengurusi urusan kaum muslimin merupakan kewajiban yang telah Allah tetapkan. Hal ini sebagaimana yang tersurat dan tersira dalam nash Al Quran dan As Sunnah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. (An Nisa' : 59)
وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ
Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).(An Nisa' : 89)
لاَ يَحِلُّ لِثَلاَثَةِ نَفَرٍ يَكُوْنُوْنَ بِفَلاَةٍ مِنَ اْلأَرْضِ إِلاَّ أَمًّرُوْا عَلَيْهِمْ أَحَدُهُمْ (رَوَاهُ أَحْمَدُ)
"Tidak halal bagi tiga orang yang berada di suatu padang pasir dari bumi kecuali mengangkat salah satu dari mereka untuk menjadi amir." (HR. Ahmad dari Abdullah bin Amr)
إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فِلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدُهُمْ (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ)
"Bila tiga orang keluar dalam suatu safar, hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka menjadi amir." (HR. Abu Daud dari Ibnu Sa'id)
At Thabrani berkata: "Di dalamnya merupakan dalil bahwa, setiap jumlah lebih dari tiga orang disyariatkan agar mereka mengangkat seorang amir dari mereka. Karena hal itu akan membawa keselamatan dari perbedaan pendapat (khilaf) yang mengarah kepada kebinasaan. Tanpa pengangkatan amir niscaya masing-masing orang akan bersikeras (ngotot) dengan pendapatnya dan berbuat menurut hawa nafsunya hingga binasa. Sebaliknya dengan mengangkat amir niscaya khilaf bisa diminimalisir dan selalu ada kata sepakat. Bila keamiran disyariatkan bagi tiga orang yang ada di gurun atau bersafar tentu akan lebih utama dan tepat bila disyariatkan bagi jumlah yang lebih banyak yang tinggal di pedesaan atau perkotaan. Mereka memerlukan itu untuk mencegah upaya saling menzhalimi dan menghentikan pertikaian. Hadits ini dalil bagi pendapat yang mengatakan wajibnya bagi umat islam untuk mengangkat pemimpin, penguasa, dan hakim.
Cara Pengangkatan Imam
1. Ikhtiyar
Dalam hal ini yang memilih adalah Ahlul Halli wal Aqdi. Cara inilah yang digunakan untuk pengangkatan abu Bakar ash Shiddiq dan Ali bin Abi Tholib.
Sesungguhnya imamah adalah wasilah (saran) bukan ghoyah (tujuan akhir). Wasilah untuk menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar dalam artian yang luas. Oleh karenanya wajib bagi setiap muslim untuk memilih imam. Sebab tidak mungkin penegakan amar ma'ruf nahi mungkar dapat ditegakkan dengan sempurna kecuali setelah memilih imam yang mengatur mereka dan membawa mereka ke jalan tersebut.
Di sisi lain terdapat jarak dan tempat tinggal yang memisahkan seluruh umat islam di segala penjuru dunia, keadaan mereka ada yang lemah, ada yang kuat, jahil, alim sehingga sulit untuk membedakan antara mereka yang sholih dan tholih. Karenanya tanggungjawab untuk memilih pemimpi dibebankan kepada para aqil umat ini, ulamanya, dan yang memiliki keutamaan.
Mereka memilih sesuai dengan apa yang nampak secara dhohir. Tentunya mereka yang berpegang teguh kepada al quran dan as sunnah dan memerintahkan sesuai dengan keridhoan Allah.
2. Istikhlaf
Yakni dengan penunjukan langsung dari kholifah sebelumnya dengan memilih siapa yang akan menggantikannya. Tentunya kholifah tersebut melihat ada seseorang yang pantas menduduki jabatan khilafah maka diapun memilihnya. Hal ini dilakukan ketika kholifah merasa ajalnya sudah dekat dan ingin salah seorang menggantikan kedudukannya maka diapun bermusyawarah dengan ahlul hilli wal aqdi. Apabila pendapatnya disetujui dengan ahlul hilli wal aqdi maka diapun dibaiat untuk menggantikan kedudukan kholifah sebelumnya.
3. Gholbah atau bil Qohr (Kudeta atau pemberontakan)
Ini merupakan cara yang terakhir dalam pengangkatan imam yakni dengan kudeta atau pemberontakan. Apabila ada seorang imam yang menjadi imam dengan cara tersebut, maka dia wajib ditaati dan diharamkan untuk keluar dari pemerintahannya kecuali karena dhorurah (keterpaksaan) untuk kemaslahatan umat muslimin dan menjaga darah mereka.
Kesimpulan
Cara pertama dan kedua merupakan cara yang sesuai syar'I dengan berbagai dalil yang ada. Sedangkan cara yang ketiga tidak termasuk cara yang sesuai syar'I namun dia tetap diakui sebagai imam. Dan tidak diperbolehkan keluar dari pemerintahannya kecuali karena dhorurah.
Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 06 Agustus 2009
Rabu, 06 Mei 2009
PERADABAN ITU PERNAH ADA
Tidak hanya orang muslim saja yang mengakuinya namun juga orang non muslim. Bahkan Michael H. Hart (1978) menjadikan Nabi Muhammad nomor satu di dalam bukunya “Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah ”. Ini bukan tanpa dasar. Semua ini berdasar sebagaimana yang dia ungkapkan dalam bukunya, mengapa memilih Nabi Muhammad menjadi nomor satu.
Apabila kita membaca sejarah kita dapati bahwasanya beliau lahir pada tahun 570 M di kota Mekkah, bagian agak selatan Jazirah Arabia. Pada waktu itu Makkah merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Bahkan ketika pertama kali islam muncul di sana hanya terdapat belasan orang yang dapat menulis. Ini semua menunjukkan kebodohan masyarakat tersebut.
Namun, berkat ajaran beliaulah pasukan arab dapat menorehkan sejarah penaklukan yang sangat mencengangkan dalam sejarah manusia dan tidak pernah tertandingi. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol. Semua sejarah ini ditorehkan oleh mereka yang mendapatkan ajaran Rasulullah.
Selain itu sejarah penaklukan wilayah tersebut sejarah juga mencatat bahwa islam telah melahirkan ulama-ulama yang berpengaruh terhadap peradaban manusia. Bahkan peradaban Barat membangun sendi-sendinya berdasarkan peradaban Islam yang berdiri di Spanyol hasil kerja keras para ulama Islam di sana. Di Spanyol, kaum muslimin mendirikan banyak perguruan tinggi dan meletakkan dasar teori eksperimen.
Ustadz Muhammad Al-Husaini Rakha berkata, “Spanyol pada masa pemerintahan bangsa Arab menjadi markas seni dan industri, serta mercu suar ilmu pengetahuan. Pada saat yang sama, negara-negara Eropa tenggelam dalam lautan kebodohan. Orang-orang Eropa aktif berinteraksi dengan orang-orang Arab dan menimba ilmu dari mereka serta mengambil manfaat dari peradaban mereka. Para mahasiswa dari seluruh penjuru Eropa berdatangan ke Spanyol dan memanfaatkan perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di sana-sini. Setelah masa belajarnya selesai, mereka pulang ke negaranya masing-masing untuk menyebarkan ilmu yang mereka pelajari dari orang-orang Arab. Di antara bukti kebesaran peradaban Spanyol bahwa di Cordova saja terdapat lima puluh rumah sakit, sembilan ratus toilet, delapan ratus sekolah, enam rauts masjid, perpustakaan umum yang memuat enam ratus ribu buku dan tujuh puluh perpustakaan pribadi lainnya.”
Peradaban kaum muslimin di Andalus (sekarang Spanyol) pada waktu itu betul-betul berada di puncak kebesarannya hingga banyak sekali raja-raja Eropa mengirimkan wakilnya untuk menimba ilmu pengetahuan di sekolah-sekolah dan universitas-universitas Andalus. Selesai kuliah, mereka kembali ke negerinya masing-masing untuk menyebarkan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di Spanyol.
Tercatat dalam sejarah bahwa George III Raja Inggris, Ghal, Swedia, dan Norwegia pernah menuliskan surat kepada Hisyam III khalifah kaum muslimin di Andalus. Dia bermaksud untuk mengirim putra-putra terbaiknya untuk menimba ilmu-ilmu di negeri Andalus.
Selain fakta di atas ada studi perbandingan yang ditulis oleh penulis Amerika tentang kondisi Eropa secara umum dan kondisi Andalus secara khusus pada era keemasannya. Ia berkata, “Jika matahari telah terbenam, seluruh kota-kota besar Eropa terlihat gelap gulita. Di sisi lain, Cordova (ibukota Andalus) terang benderang disinari lampu-lampu umum. Eropa sangat kumuh sementara di kota Cordova telah dibangun seribu WC umum. Eropa sangat kotor sementara penduduk Cordova sangat perhatian dengan kebersihan. Eropa tenggelam dalam Lumpur sementara jalan-jalan Cordova telah mulus. Atap istana-istana Eropa sudah pada bocor sementara istana-istana Cordova dihiasi dengan perhiasan yang mewah. Para tokoh Eropa tidak bisa menulis namanya sendiri sementara anak-anak Cordova sudah mulai masuk sekolah …!”
Karena peranan Andalus (Spanyol) pada era Islamlah Eropa maju dalam ilmu pengetahuan, seni, dan industri. Dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan seni ke seluruh pelosok Eropa, Andalus tidak membeda-bedakan negara satu dengan negara lainnya. Salah seorang orientalis yang moderat berkata, “Tanpa bangsa Arab dalam sejarah, kebangkitan ilmu pengetahuan dan seni akan mundur ke belakang hingga berabad-abad.”
Sejarah itu pernah tercatat, akankah kita biarkan itu hanya tinggal kenangan tanpa ada keinginan dalam diri kita untuk mengulang sejarah tersebut ? Pertanyaan ini haruslah menjadi cambuk bagi diri kita untuk terus berusaha mengulang sejarah tersebut. ( Frm)
Langganan:
Postingan (Atom)