Selasa, 23 Juni 2009

Sejarah Kemunculan Bid'ah

Kemunculan bid'ah -yang diperangi para salaf- tidak muncul dalam sekali waktu. Akan tetapi muncul pada masa dan waktu yang berbeda serta di tempat yang berlainan dan berjauhan. Di sini kita akan memaparkan beberapa fase sejarah kemunculan bid'ah. Fase ini sejak masa rasulullah saw hingga pertengahan abad ketiga.
1. Fase pertama
Selama kurun 23 tahun al qur'an turun secara bertahap kepada Rasulullah saw. Beliaupun menyampaikannya kepada manusia dan menjelaskan maknanya sehingga agama ini menjadi sempurna.

Para shahabatpun langsung mendengar al qur'an dari rasulullah saw dan mereka memahami maknanya kemudian mengimaninya serta mengamalkan syari'at di dalamnya. Adapun yang diturunkan di dalam al qur'an mencakup penjabaran tentang perkara ghoib seperti pengkabaran tentang dzat Allah, asma' dan sifat-Nya, perbuatan-Nya, tentang hari akhir, kejadian dan keadaan pada waktu itu, tentang jannah, neraka, balasan bagi setiap pahala dan dosa. Semua itu terkandung dalam al qur'an dan di dalam maknanya yang diturunkan padanya.
Rasulullah menyampaikan dan menjelaskannnya kepada para shahabat, merekapun menerima, memahami dan mengimaninya. Tidak pernah diketahui seorangpun dari mereka yang ragu dan tidak memahaminya.
Kami yakin bahwa mereka memahami apa yang ada di dalamnya apabila tidak memahaminya maka merekapun akan bertanya dan meminta penjelasan tentang maknanya, sebab terkait dengan perkara mendasar dalam kehidupan mereka yakni perkara i'tiqod (keyakinan).
Kita menyaksikan mereka membawa pedang ketika mereka belum menerima islam. Kemudian mereka berubah dan rela mengorbankan jiwa raga, anak, serta harta mereka. Mereka tidak akan melakukan hal itu di jalan yang mereka bodoh terhadap aqidahnya dan tidak mengetahui maksudnya.
Ya, para shahabat pernah bertanya kepada rasulullah saw tentang perkara-perkara syar'i yakni perkara amaliyah (amal) bukan i'tiqodiyah (keyakinan). Sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas ra: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih baik daripada shahabat rasulullah saw. Mereka tidak bertanya kecuali tentang 13 perkara hingga rasulullah saw meninggal. Dan semua itu terdapat dalam al qur'an. “Mereka bertanya tentang haidh, mereka bertanya tentang bulan haram, mereka bertanya tentang anak yatim......” mereka tidak bertanya kepada rasulullah saw kecuali bermanfaat bagi mereka.”
Ibnu Qoyyim al Jauziyyah berkata: Pada masa nabi saw masih hidup para shahabat ra berada dalam satu aqidah, sebab mereka mendapati masa turunnya wahyu dan mendapatkan kemuliaan bershahabat dengan rasulullah saw dan beliau menghilangkan kelamnya keraguan dan kebingungan.
Beliau berkata juga: Para shahabat pernah berbeda pendapat dalam beberapa permasalahan ahkam (hukum-hukum islam) -padahal mereka pemimpin kaum mukminin dan umat yang paling sempurna imannya- akan tetapi dengan karunia Allah mereka sedikitpun tidak pernah berbeda pendapat dalam satu perkara asma' dan sifat serta perbuatan Allah swt.
Inilah gambaran nyata kehidupan shahabat ra, kehidupan mereka selamat dari penyimpangan aqidah yang mengotori kesuciannya.
Hampir saja sebagian inkhirof (penyimpangan) muncul pada generasi ini akan tetapi langsung mendapatkan terapi dan dihilangkan pada waktu itu pula sehingga sepanjang fase ini tidak muncul kebid'ahan.
Pada masa rasulullah sebagian shahabat berdebat tentang qodr, maka rasulullah saw marah dan melarang nya maka merekapun menghentikannya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Amru bin Ash berkata: sesungguhnya saw keluar dan mereka berdebat tentang qodr: ini mengambil ayat ini dan ini mengambil ayat ini, seakan-akan wajah beliau marah seperti buah delima. Beliau bersabda: apakah dengan perselisihan ini kalian diperintahkan dan disuruh untuk mempertentangkan kitabullah yang satu dengan yang lain? Perhatikan apa yang diperintahkan kepada kalian maka ikutilah dan apa yang dilarang kepada kalian maka jauhilah.
Hadits ini menunjukkan bahwa sebagian shahabat berdebat tentang perkara qodr pada masa nabi saw akan tetapi perdebatan ini berhenti dan tidak terulang lagi.
Setiap dari mereka tidak melakukannya kembali. Pun, tidak diriwayatkan dari salah seorang shahabat yang menghidupkan perdebatan. Bahkan diriwayatkan bahwa mereka menolak qodariyah ketika bid'ah tersebut muncul dan mereka berlepas diri dari hal tersebut.
Pernah juga terjadi pada masa Umar bin Khottob beberapa perkara atau kejadian aneh dan segera dihilangkan sehingga tidak muncul kembali setelahnya. Yakni kejadian yang terjadi pada Shobigh. Dia pernah bertanya tentang mutasyabihul qur'an maka Umarpun memukulnya hingga dia bertaubat.
Diriwayatkan dari Al Lalikaiy dengan sanadnya yang sampai kepada Sulaiman bin Yasar bahwasanya ada seorang laki-laki dari bani Ghoim yang dipanggil dengan Shobigh bin 'Asl dan dia memiliki buku-buku. Maka dia pun banyak mempertanyakan tentang mutasyabihul qur'an. Ketika hal itu sampai kepada Umar, maka diapun memanggilnya. Umar telah menyiapkan cambuk dari pelepah kurma. Maka ketika dia sampai kepadanya dan duduk, Umar bertanya: Siapa namamu? Aku Abdullah Shobigh, jawabnya. Umarpun berkata: Aku Abdullah Umar dan menunjuknya dengan cambuk kemudian dia memukulnya dengan cambuk tersebut. Umar terus memukulinya hingga melukai kepalanya dan mengalir darah dari wajahnya. Diapun berteriak: Cukup! Cukup, wahai amirul mukminin sungguh telah pergi apa fikiran yang ada dalam kepalaku.
Sejarah singkat ini menunjukkan pada fase ini belum muncul bid'ah dan penyimpangan dalam aqidah.
2. Fase kedua (37 H – 100 H)
Pada fase ini -dimulai sejak pertengahan khilafah (pemerintahan) Aly ra- mulai bermunculan induk-induk bid'ah. Hal ini dipengaruhi oleh memanasnya suasana politik pada masa shahabat karena perbedaan ijtihad mereka.
Pada fase itu muncul Khowarij dan Syiah. Kedua kelompok ini saling bertentangan, salah satunya mengkafirkan Ali ra dan berlepas diri darinya sedangkan yang lain menolong dan membelanya. Kemudian muncul bid'ah yang lain yakni Qodariyah dan Murjiah.
3. Fase ketiga(100 H-150 H)
Pada abad kedua hijriah muncul empat orang yang melakukan bid'ah yang dari merekalah yang kelak menjadi induk kesesatan. Mereka adalah:
a. Washil bin Atho' al Bashry
Dia adalah pendiri firqoh mu'tazilah. Dia dilahirkan di Madinah tahun 80 H dan berguru kepada Hasan Al Bashry. Kemudian ketika dia membuat bid'ah "manzilah baina manzilatain" (yakni di dunia dia tidak mukmin dan tidak kafir) maka Hasan al Bashry pun mengusirnya dari majelis beliau. Akhirnya dia membuat majelis khusus dan orang yang cenderung kepadanya bergabung bersamanya. Dia meninggal pada tahun 131 H.
b. Ja'd bin Dirham
Ja'd bin dirham adalah bekas budak Suwaid bin Ghoflah. Dia bersalal dari Khurosan dan tinggal di Damsyiq. Maka ketika dia mengeluarkan pernyataan tentang kholqul qur'an (qur'an adalah makhluk) maka pemerintahan Bani Umayyah memburunya, dan diapun melarikan diri ke Kufah. Di sana dia bertemu dengan Jahm bin Shofwan dan Jahm pun taklid terhadap pendapatnya. Akhirnya Kholid bin Abdullah al Qusary -amirul kufah- menangkapnya dan membunuhnya pada hari Idul Adha tahun 124 H.
c. Jahm bin Shofwan
Nama lengkapnya Jahm bin Shofwan Abu Mahroz al Samarqandy. Muncul di Tirmidz kemudian pindah ke Balkh dan menetap di sana. Dia sholat bersama Muqotil bin Sulaiman di masjidnya. Keduanya sering berdiskusi hingga dia pergi ke Tirmidz dan keluar dari pemerintahan bersama Harits bin Suraij. Diapun akhirnya dibunuh oleh Salm bin Ahroz di Ashbihan namun ada yang mengatakan di Marwa pada tahun 128 H.
d. Muqotil bin Sulaiman
Muqotil bin Sulaiman bin Basyrar Al Balkhy, terkenal dengan tafsir qur'annya. Namun para ulama berselisih tentang ketsiqohannya dan kecacatan periwayatannya. Dia meninggal pada tahun 150 H.
4. Fase keempat (150 H- 234 H)
Pada fase ini tidak didapati di dalamnya bid'ah baru. Akan tetapi bid'ah yang telah lama masuk saling tercampur dengan bid'ah yang lain. Sehingga firqoh sesat pada masa ini hanya terbatas pada empat yakni:
- Khowarij
- Syi'ah
- Mu'tazilah
- Murjiah
Syiah melahirkan Al Mujassamah, Mu'tazilah melahirkan Qodariyah dan sebagian Jahmiyah, dan Jabariyah masuk ke dalam Murjiah dan ke firqoh lainnya.
Pada masa itu mu'tazilah banyak melakukan kegiatan telaah. Para pembesar mereka mulai memperdalam dan menelaah kitab-kitab filsafat yang diterjemahkan pada masa al Makmun (198 H-218 H)
Syahrostani berkata: "Ketika syaikh-syaikh mu'tazilah menelaah kitab-kitab filsafat yang tersebar pada hari-hari Makmun maka manhaj mereka tercampur dengan manhaj ahli kalam.
Mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang asing dan pendapat-pendapat nyeleneh yang menyimpang. Inilah yang menyebabkan mereka mengkafirkan kelompok lain. Begitu pula kelompok yang lain mengkafirkan mereka sebagaimana yang disebutkan oleh al Baghdady rh.